17 Sep 2019 · ADMIN

Ini Lho 7 Cara Ampuh Mengatasi Anak Mogok Sekolah

Pernah mengalami anak tiba-tiba mogok sekolah? Sudah dibujuk, dirayu, diming-imingi ini dan itu tapi masih tidak mau berangkat sekolah.

Sebenarnya tidak ada anak yang tiba-tiba langsung mogok sekolah.

Sebelum hari H mogok, anak sudah menunjukkan gelagat malas sekolah. Namun karena kita kurang peka dengan kebiasaan atau bahasa tubuhnya, maka kita seringkali melewatkan masa kritis saat anak butuh bantuan.

Untuk mengatasi anak mogok sekolah, sebelumnya kita perlu mengetahui penyebabnya. Berikut adalah beberapa penyebab beserta cara mengatasi anak mogok sekolah.

1. SAKIT

Anak belum memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik untuk mengungkapkan rasa sakit. Mungkin setelah seharian main, ia kelelahan tapi tidak dirasakan.

Esoknya, mereka merasa tidak enak badan dan malas berangkat sekolah. Penyebab anak mogok sekolah yang satu ini jelas lebih mudah bagi Anda untuk mengatasinya.

2. KEHILANGAN TEMAN DEKAT

Anak Anda mungkin tipe introvert. Seorang introvert biasanya lebih suka berteman dengan sedikit orang, tapi bisa mengenal teman-temannya dengan baik ketimbang memiliki banyak teman tapi hanya tahu kulitnya.

Jika anak Anda tergolong introvert, biasanya mereka akan dekat dan bergaul dengan orang yang itu-itu saja. Perhatikan saja pergaulan anak Anda, apakah masih dengan orang yang sama atau sekarang ditinggalkan teman dekatnya.

Kalau memang sudah tak lagi dengan teman yang biasanya, ini bisa menjadi penyebab anak mogok sekolah.

Tidak perlu bingung mengatasinya!

Berikan hiburan, dukungan serta ajarkan bagaimana cara berinteraksi yang baik.

Ajak mereka bergabung dengan komunitas sehobi, berkunjung ke rumah tetangga, kerabat dekat atau tempat baru yang memungkinkan mereka berkenalan dengan orang-orang baru.

Pastikan anak Anda nyaman berada di lingkungan baru yang Anda kenalkan dan pastikan anak diterima lingkungan itu dengan baik.

3. TAKUT DENGAN TEMANNYA

Di sekolah, orangtua kesulitan mengontrol pergaulan anak. Kita sendiri kadang tidak tahu latar belakang teman dari anak-anak.

Inilah yang biasanya menjadi virus menyebarnya kebiasaan atau perilaku buruk pada anak. Bergaul dengan lingkungan negatif yang mana lingkungan itu sulit untuk kita awasi.

Di sekolah pun biasanya ada anak-anak yang suka mendominasi kelas. Banyak bicara, sulit diatur dan diajak kerjasama oleh guru.

Jika anak Anda tergolong pasif atau memiliki keunikan tertentu, seperti pendiam, memiliki kelebihan berat badan, terlalu kurus, sering terlambat, cengeng dll.

Biasanya anak yang mendominasi suka mengganggu anak lain dengan keunikan tertentu ini. Pada akhirnya, anak akan malas berangkat sekolah karena takut diganggu dan diusili.

Jika gangguan ini terjadi berlarut-larut, anak Anda bisa menjadi korban bullying.

Ini juga pernah saya alami saat duduk di kelas 4 SD. Ada seorang anak yang mendominasi kelas, bebal dan sulit diajak kerjasama guru.

Dia pernah meminjam sepeda saya, menaikinya dan menjatuhkannya ke dalam got. Karena takut diganggu lagi, saya mogok sekolah.

Akhirnya, Bapak saya mengunjungi rumah orangtua teman saya dan membicarakan gangguan yang diberikan anaknya pada saya saat di sekolah. Solusi ini bisa Anda coba.

Perlakuan teman anak Anda yang tidak sopan itu menjadi urusan orangtuanya, bukan Anda. Biarkan orangtua anak itu yang mendidik dan memberi pengajaran.

Tugas Anda sebagai orangtua adalah memberi tahu orangtuanya mengenai kelakuan anaknya di sekolah. Hal lebih penting yang patut Anda lakukan adalah mendidik dan membesarkan hati anak Anda.

“Tidak ada yang perlu ditakutkan karena Bapak/Ibu yakin kamu anak yang berani menghadapi masalah.”

Informasikan juga pada pihak sekolah mengenai kejadian yang menimpa anak Anda. Pihak sekolah juga ikut bertanggung jawab dalam mendidik dan mengatur perilaku anak didiknya.

Jika sekolah tak mau membantu Anda atau gangguan pada anak Anda tidak berhenti, sebaiknya segera pindahkan anak ke sekolah lain atau cari alternatif pendidikan.

Sekolah yang tidak membantu artinya tidak peduli dengan perkembangan dan kemajuan anak Anda.

4. TIDAK COCOK DENGAN GURUNYA

Saya pernah bertemu guru yang tidak memiliki kontrol emosi yang baik. Suka melontarkan kata-kata pedas dan menyindir muridnya yang tidak mengerjakan PR atau lambat memahami pelajaran.

“Kamu ini tidak usah belajar. Main saja terus supaya tidak naik kelas.”

Bahkan sewaktu saya tidak mampu menjawab pertanyaan, beliau mengatai saya “Otakmu kopyor!”

Kalimat negatif seperti di atas bisa melemahkan kepercayaan diri anak, membuat anak merasa tidak berharga dan merusak konsep diri mereka.

Apalagi jika anak Anda tergolong sensitif. Mereka mudah sakit hati dan tidak terima dengan ucapan orang lain yang tidak enak didengar.

Kejadian ini membuat anak malas berangkat sekolah dan akhirnya memutuskan mogok sekolah.

Solusi mengatasi anak yang tidak cocok dengan gurunya adalah berkomunikasi dengan pihak sekolah dan guru yang bersangkutan. Mengatakan yang sebenarnya mengenai apa yang dialami anak di kelas.

Yang juga penting adalah membangun kepercayaan diri anak Anda. Jika anak tidak memiliki kepercayaan diri, maka ia akan merasa dirinya tidak mampu.

Mereka akan terus-terusan merasa tidak berdaya, sulit konsentrasi dan tidak memiliki motivasi belajar.

5. KESULITAN MEMAHAMI PELAJARAN

Anda tahu kan kalau di sekolah itu lebih banyak guru yang hanya mentransfer pelajaran dari buku ke otak anak?

Jarang saya temui ada guru yang berjiwa pendidik. Yang benar-benar tahu kelebihan muridnya dan peduli dengan pengembangan potensi.

Sehingga, lebih banyak guru yang menyampaikan materi dengan cara ceramah. Padahal kita tahu gaya belajar itu ada 3.

  • Auditori; suka menerima dan memproses informasi dengan mendengarkan
  • Visual; suka menerima dan memproses informasi dengan membaca, mengamati
  • Kinestetik; suka menerima dan memproses informasi dengan praktik, terlibat langsung

Di sini yang dirugikan adalah anak kinestetik. Karena mereka lebih mudah memahami pelajaran dengan cara praktik langsung, tapi di kelas diminta duduk manis dan mendengarkan.

Saat mereka aktif (kinestetik tidak bisa duduk diam sepanjang hari), justru guru menganggap mereka membuat gaduh dan mengganggu yang lain.

Akhirnya, anak kinestetik ketinggalan dan sulit menerima pelajaran dengan baik. Inilah yang mengakibatkan anak jadi malas belajar dan mogok sekolah.

Solusi mengatasi hal ini adalah ajari anak Anda sendiri di rumah. Selidiki gaya belajarnya apa, kemudian temani, berikan dukungan dan belajarlah bersama mereka.

Tak perlu kalau takut tidak bisa mengajar. Di sini peran Anda sebagai FASILITATOR yang membantu anak menemukan jawaban atas pertanyaannya mereka sendiri.

Karena yang mereka butuhkan sebenarnya bukan jawaban untuk PRnya. Tapi, dukungan dan perhatian orangtuanya. Prinsip belajar ini sebenarnya saya ambil dari HOMESCHOOLING.

Homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga dimana orangtua bertindak sebagai penanggung jawab utama proses belajar anak.

Orangtua yang memilih homeschooling, mereka tidak mengantarkan anaknya ke sekolah, melainkan mendidik anaknya sendiri di rumah.

Homeschooling menawarkan keleluasaan pada orangtua untuk memilih sendiri cara mengajar, materi pelajaran dan waktu belajar sesuai kebutuhan anak.

Jadi, anak tidak dipaksa mengikuti aturan kurikulum atau aturan guru yang kadang tidak sesuai dengan karakter anak.

Jika Anda tertarik belajar homeschooling, Anda bisa ikuti Pelatihan Homeschooling yang saya adakan tiap sebulan sekali. Silahkan klik banner ini untuk melihat detil materi yang saya ajarkan di Pelatihan.

6. BOSAN DENGAN SEKOLAH

Anak bosan sekolah karena kegiatan yang padat dan monoton. Duduk, mendengarkan, membaca, menghafal adalah kegiatan pokok sekolah.

Padahal, anak zaman sekarang dekat dengan produk teknologi. Mereka terbiasa nonton dan mendengarkan video dengan visual menarik serta menerima informasi serba instan.

Akibatnya, mereka memiliki fokus yang rendah, lebih tertarik dengan sesuatu yang visualnya menarik dan malas membaca sesuatu yang berat.

Jadi, kalau kegiatan di sekolah monoton, tidak menarik secara visual, tidak melibatkan anak untuk aktif dan disampaikan melalui buku teks statis penuh tulisan, mereka akan gampang bosan. Kalau sudah bosan, ya malas berangkat sekolah.

Cara mengatasi anak mogok sekolah karena bosan adalah sesekali ajak mereka ke tempat baru. Biarkan mereka menghirup udara segar, bebas, berlari, berteriak, melepaskan penat.

Dalam kegiatan itu, ajak anak bercerita tentang alam, cita-citanya di masa depan, apa yang ia inginkan saat ini, apa yang ia sukai. Intinya, bicarakan hal yang manis, jangan sebut-sebut sekolah atau nilai pelajaran dan berhenti memberikan tuntutan soal prestasi sekolah.

7. MINATNYA NON-AKADEMIS

Kita tahu sekolah hanya mengajarkan sesuatu yang sifatnya akademis. Matematika, Bahasa Indonesia, Akuntansi, Fisika, Kimia dan Biologi.

Seolah semua pelajaran itu mahapenting dan mampu menjamin kesuksesan anak di masa depan. Anak di sekolah tidak diberi waktu mengenal siapa dirinya, apa minat dan potensinya.

Sekolah dan pemerintah menganggap semua anak bercita-cita jadi orang modern, menjadi PNS, karyawan BUMN atau perusahaan multinasional.

Sehingga, apa yang diajarkan di sekolah adalah untuk mempersiapkan anak masuk dunia industri atau perguruan tinggi.

Padahal, ada anak yang bercita-cita jadi penulis, internet marketer, pelukis, aktor, penyanyi, pemusik, petani, peternak dan profesi non-akademis lainnya.

Jika minatnya ada pada bidang non-akademis, maka pelajaran di sekolah membuatnya tidak tertarik. Akhirnya, malas dan mogok sekolah.

Untuk mengatasinya, orangtua harus berpikiran terbuka.

Mengajak anak diskusi mengenai cita-cita dan minatnya. Selanjutnya, kita carikan pendidikan alternatif yang lebih tepat dimana anak bisa menyalurkan minat dan mengembangkan potensinya.

Contohnya Rudi Hadisuwarno, penata rambut terkenal di Indonesia. Awalnya, dia suka melihat dan menyukai ibunya yang pandai memotong rambut.

Akhirnya, minat ini membawanya pada potensi yang menjadi sumber penghasilan dan eksistensinya sekarang.

Pendidikan alternatif yang bisa Anda coba adalah HOMESCHOOLING. Homeschooling menawarkan fleksibilitas tinggi, yakni belajar dengan prinsip fokus pada kelebihan.

Jika anak punya kelebihan atau minat yang sudah terlihat, maka itulah yang dikejar. Kita belajar dengan tujuan memperkuat kelebihan.

Bukan belajar dengan menuntut anak harus menguasai semua mata pelajaran dalam sekali waktu, tapi di satu sisi pelajaran itu tak banyak bisa dimanfaatkan di masa depan. Akhirnya, pendidikan menjadi tidak tepat sasaran.

Dalam homeschooling, saat Anda akan memulainya kami akan ajari bagaimana cara membuat visi pendidikan.

Tujuan/visi/cita-cita dibuat dulu, baru mencari cara belajar yang tepat. Bukan sebaliknya, sekolah dulu baru bicara soal cita-cita.

Kalau terbalik, yang terjadi seperti kebanyakan orang di sekitar Anda. Kuliah jurusan IT, tapi menjadi banker. Kuliah jurusan pendidikan, tapi jadi ahli IT. Kuliah jurusan bidan, tapi jadi pegawai administrasi.

Karena mereka tidak menentukan tujuannya lebih dulu. Asal jalan, tersesat dan akhirnya pekerjaan apapun diembat.

Padahal, pendidikan seharusnya menjadi investasi bagi masa depan anak. Memperdalam bakat hingga akhirnya lulus dan berprofesi sesuai dengan apa yang menjadi kekuatannya.

LATEST POSTS

DOWNLOAD MATERI

Tentang kami

Profile Lembaga  

              

GALLERY OF SCHOOL