26 Sep 2019 · ADMIN

Belajar; Siapa Saya, Apa yang Saya Lakukan, Apa yang Saya Tahu?

Dalam buku Unschooling Rules yang ditulis oleh Clark Aldrich, saya menemukan makna belajar yang sangat dalam. Learn to be; learn to do; learn to know.

Hal ini membuat saya teringat dengan proses pembelajaran di sekolah yang menganggap belajar sebagai;

  1. datang ke sekolah
  2. membaca buku
  3. mendengarkan guru
  4. mengerjakan pr
  5. ikut tes

dan, semua hal yang berkaitan dengan akademis. Setelah membaca halaman ini, saya harap Anda sebagai orangtua mulai berpikir ulang mengenai pengertian pembelajaran yang sebenarnya.

Pengertian pembelajaran itu bukan sekedar TAHU TEORI, tapi juga harus paham bagaimana cara memanfaatkan teori itu. Berikut adalah urut-urutan belajar yang tepat.

1. Learn to be

Kurang lebih maknanya belajar untuk menjadi. Maksudnya, setelah belajar kita harus tahu siapa diri kita dan mau jadi apa kita di masa depan nanti.

Dalam proses belajar ini, kita harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut;

  • apa yang kita sukai?
  • apa yang membuat kita bergairah menjalani hari?
  • apa yang membuat kita peduli dan termotivasi tiap saat?
  • apa kelebihan atau potensi kita?
  • apa tujuan hidup kita?
  • apa manfaat kita untuk lingkungan sekitar?

Sejak remaja, saya menyimpan pertanyaan ‘sulit’ yang sampai dengan hari ini masih samar-samar saya lontarkan dalam hati. SAYA HIDUP UNTUK APA?

Proses learn to be harus membantu seseorang menjawab pertanyaan itu. Apakah mungkin kita dilahirkan untuk menjalani hidup biasa-biasa saja?

Lahir, sekolah, kerja, menikah, punya anak, piknik lalu mati? Sangat tidak mungkin Tuhan Yang Maha Luar Biasa menciptakan manusia tanpa tujuan.

Inilah yang perlu kita ajarkan pada anak. Mengenal siapa diri dan potensinya. Mengetahui tujuan Tuhan menciptakan dan menurunkan kita ke dunia.

Sayang sekali, waktu anak-anak habis di sekolah untuk mempelajari teori. Tiap hari mereka berkutat dengan materi akademis yang jauh dari konteks rill kehidupan mereka.

Anak yang tinggal di pantai diminta mempelajari hal-hal yang bersifat kota. Padahal, tidak semua anak ingin menjadi warga modern yang tinggal di kota.

Akan lebih baik jika tiap anak ditanya apa yang disukai dan diberi kesempatan mengerjakan hobinya.

Jika jawaban anak ingin menjadi PENGUSAHA MANIK-MANIK yang akan dijual kepada wisatawan yang mengunjungi pantai, maka orangtua dan guru harus mengarahkan anak menuju cita-cita tersebut.

Bukan sekedar membekali anak dengan rumus-rumus yang di masa depan nanti justru sulit dimanfaatkan dalam kehidupan nyata.

Jika jawaban anak ingin menjadi GURU, maka orangtua dan guru harus membimbing anak menuju harapan itu.

Bukan sekedar membuat anak pintar menyampaikan materi dan membuat soal, tapi juga membantu anak menjadi guru yang penuh totalitas.

Guru yang mencintai profesinya, bekerja karena peduli dengan dunia pendidikan bukan karena sekedar ingin cari makan.

Proses learn to be menjadi krusial karena ini adalah landasan kita dalam membuat keputusan dan bertindak di tahap kehidupan selanjutnya.

2. Learn to do

Setelah manusia mengenal siapa diri dan apa potensinya, selanjutnya kita harus tahu bagaimana cara menggunakan potensi itu.

Proses learn to do adalah fokus pada pengembangan skill yang bisa diterapkan atau menjadi seseorang yang produktif.

Kembali pada contoh di atas, anak yang bercita-cita ingin menjadi guru. Dalam proses learn to do, anak ini seharusnya tak hanya diajari ‘bagaimana cara mengajar yang baik’.

Yang juga penting adalah mengarahkan mereka menjadi guru yang produktif. Guru yang mampu memerdekakan hidupnya.

Lihat betapa banyaknya guru honorer yang turun ke jalan untuk demo menuntut pemerintah menyejahterakan hidupnya.

Demo ini jelas menunjukkan betapa sekolah dan universitas kita masih sibuk dengan teori hingga lupa mengajarkan pada anak didiknya skill untuk memerdekakan hidup.

Dengan guru-guru yang belum sejahtera dan masih bingung bagaimana cara mengisi perutnya, apakah proses pembelajaran di sekolah bisa fokus melahirkan GENERASI MELEK POTENSI?

Jawabannya, tidak.

Apalagi sejak awal, guru-guru ini juga lahir dari sekolah yang mengabaikan minat dan bakat.

Sehingga, mereka kurang sadar terhadap passion dan ketika mengajar mereka memiliki prinsip ‘yang penting sudah ngajar’.

  • apakah anak paham dengan baik atau tidak – itu tidak penting
  • apakah anak nyaman dengan gaya mengajar guru atau tidak – mereka tidak peduli
  • apakah anak menikmati proses belajar atau tidak – itu tidak diperhatikan

Inilah yang pada akhirnya melahirkan GENERASI BINGUNG. Tidak tahu apa kelebihannya dan bagaimana cara memanfaatkan kelebihan itu.

3. Learn to know

Proses learn to know adalah mengajari anak tentang beragam pengetahuan dan informasi. Kita bisa menggunakan buku, internet, jejaring sosial, guru, ustad, tokoh publik atau orangtua sebagai sumber belajar.

Ini adalah tipe belajar yang lebih sering diexplore oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Kita berasumsi bahwa semakin banyak hal yang kita ketahui, maka itu membuat kita makin pintar.

Yang terjadi justru sebaliknya. Makin banyak hal yang kita pelajari, kita makin bingung bagaimana cara memanfaatkan informasi tersebut karena terjadi overload information.

Kondisi yang menggambarkan seseorang tidak bisa memahami masalah dan membuat keputusan tepat karena jumlah input ke suatu sistem melebihi kapasitas pemrosesan.


Kurikulum selalu diperbaiki. Sistem penentuan kelulusan selalu diperbaharui. Tapi, kedua hal itu masih mengabaikan tipe belajar pertama dan kedua, yakni LEARN TO BE, LEARN TO DO.

Anak-anak kita di sekolah belum mendapat kesempatan luas dalam mengenal siapa diri dan potensinya serta belum diajari cara mengembangkan potensi tersebut.

Inilah yang akhirnya melahirkan pengertian pembelajaran yang tidak tepat.

Belajar seringkali diartikan sebagai membaca, mencatat dan mendengarkan karena di sekolah proses LEARN TO KNOW lah yang lebih sering diasah.

Sekarang, pertanyaan mendasar yang ingin saya tanyakan pada Anda “apakah Anda masih ingin mengantarkan anak ke sekolah atau mau pilih pendidikan alternatif lain? HOMESCHOOLING, misalnya.

LATEST POSTS

DOWNLOAD MATERI

Tentang kami

Profile Lembaga  

              

GALLERY OF SCHOOL